Jumat, 21 Februari 2020

Doa 'Arsy Yang Sangat Bermanfaat


Diantara hal-hal yang penting adalah mengenal makhluq-makhluq Allah yang ghoib yang tidak tampak oleh panca indera kita, akan tetapi telah diberitakan oleh Allah melalui Al-Quran dan As-Sunnah keberadaannya, sehingga menuntut kita untuk mengetahui dan mengimaninya agar dapat dikatakan telah beriman kepada yang ghoib.

Diantara mereka adalah Arsy, tempat bersemayamnya Allah Taala sebagaimana disebutkan di 19 surat dalam Al-Quran, di antaranya.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. [Al A’raf /7:54]

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. [At-Taubah/9:129]

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مَامِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Rabb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran. [Hud/10:3]

/32:4]

وَتَرَى الْمَلاَئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رِبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb-nya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan:”Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”. [Az-Zumar/39:75]

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. [Al-Mu’min/40:7]

APAKAH ARSY ITU?

Pengertian Al Arsy menurut Ahlu Sunnah wal Jamaah (manhaj Salaf), adalah makhluq Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat.

Berkata Al-Baihaaqy : dan pendapat para ahli tafsir tentang Al-Arsy adalah singgasana, dan dia adalah jasad yang berbentuk yang telah diciptakan Allah dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikilnya dan beribadah dengan mengagungkan dan berthawaf padanya, sebagimana Dia menciptakan satu rumah dibumi dan memerintahkan bani Adam untuk berthawaf padanya dan menghadapkan kepadanya ketika sholat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukkannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar.

Berkata Ibnu Katsir : Dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat dan dia seperti kubah yang menutupi alam ini dan dia adalah atapnya para makhluq.

Dan berkata Adz-Dzahabiy – setelah menyebutkan kebahagian ahli syurga- : Apa yang disangka tentang Al-Arsy yang agung yang telah dijadikan Allah untuk diriNya dalam ketinggian, luas, tiang-tiang, bentuk, pemikulnya dan melaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy serta kebagusan dan keindahannya. Sungguh telah diriwayatkan, dia dibuat dari yaquut (jenis permata yang sangat indah (pen)) yang berwarna merah. Berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Dalil Al-Arsy adalah makhluq Allah yang telah Allah ciptakan:
Dari Al-Quran
ذَالِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. [Al-An’am/6:102]

Maka setiap sesuatu di alam ini adalah makhluq yang Allah ciptakan dan adakan, dan Al Arsy adalah salah satu makhluq dari makhluq-makhluq Allah.

Dan firman Allah :
اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy yang besar. [An-Naml/27:26]
وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung. [At-Taubah/9:129]

Berkata Al Haafidz Ibnu Hajar, firman Allah :
وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. [At-Taubah/9:129]

Memberikan isyarat penunjukkan bahwa Al-Arsy dimiliki, dan setiap yang dimiliki adalah makhluq… dan dalam penetapan tiang-tiang Al-Arsy ada penunjukan yang tegas bahwa Arsy adalah sesuatu yang tersusun dari beberapa bagian dan anggota tubuh, dan sesuatu yang tersusun demikian adalah makhluq yang diciptakan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Raziin Al uqailiy, beliau berkata:
يَارَسُوْلَ الله أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قاَلَ كَانَ فِيْ عَمَاء مَا فَوْقَهُ هَوَاءُ وَ مَا تَحَْهُ هَوَاءُ ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى اْلمَاءِ

Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluqNya ? Beliau menjawab: Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya diatas air.

Ini adalah dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama salaf dalam menetapkan Arsy sebagai makhluq dari makhluq Allah.

2. Dalil Al-Arsy adalah makhluq Allah yang tertinggi dan berbentuk kubah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia adalah tengah-tengah syurga dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.

Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abi Zamaniin dalam kitabnya Ushulus Sunnah : Dan dari pendapat Ahlus Sunnah adalah Allah telah menciptakan Al-Arsy dan mengkhususkannya dengan berada diatas dan ketinggian diatas semua makhluqNya…

Dan berkata Ibnu Taimiyah : Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagimana diriwayatkan dalam As-Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata : Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rab dan berkata : Wahai Rasululloh jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai berkata Rasulullah :

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah.

Dan tentang ketinggiannya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jka kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.

Dan jelaslah dengan hadits-hadits ini bahwa Al-Arsy adalah makhluq yang paling tinggi dan dia seperti kubah…

3. Dalil Al-Arsy Ialah Singgasana.

Berkata Ibnu Qutaibah : Mereka mencari-cari makna lain untuk Arsy selain singgasana, sedangkan Ulama bahasa (Arab) tidak mengenal makna untuk Arsy kecuali singgasana dan apa yang digelar dari atap-atap dan yang serupanya.

Berkata Ibnu Katsier : Al-Arsy dalam bahasa Arab artinya dari singgasana untuk seorang raja, sebagaimana firman Allah :

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Adalah dia (ratu Bilqis) mempunyai singgasana yang besar [An-Naml : 23]

Dan bukan galaksi.

Demikian juga bangsa Arab tidak mengenal hal itu sedangkan Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, maka dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang…

4. Dalil Bahwa Arsy Adalah Singgasana Yang Memiliki Tiang-Tiang

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَأَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ يَفِيْقُ فَإِذَا أَنَا بِمُوْسَى آَخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ اْلعَرْشِ فَلا أَدْرِيْ أَفَاقَ قَبْلِيْ أَمْ جُوْزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّوْرِ

Sesungguhnya manusia pingsan pada hari kiamat, lalu aku adalah orang yang pertama sadar, seketika itu aku mendapatkan Musa sedang memegang sebuah tiang dari tiang-tiang Al-Arsy, maka aku tidak tahu apakah dia telah sadar sebelumku ataukah dia dibebaskan (dari pingsan tersebut) karena telah pingsan di Bukit Thur.

Berkata Ibnu Abil Izz : Telah tetap dalam syariat bahwa Al-Arsy memiliki tiang-tiang.

4. Dalil Bahwa Arsy Dipikul Dan Para Malaikat MelakuKan Thawaf

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. [Al-Mu’min:7]

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka. [Al-Haaqah/69:17]

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Jabir bin Abdillah : Aku diizinkan untuk membicarakan seorang malaikat dari para malaikat Allah dari pemikul Al-Arsy, sungguh jarak antara daun telinganya sampai bahunya sepanjang perjalanan 700 tahun.

Dari sini jelaslah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang Al-Arsy dan ini merupakan pendapat salaf dalam hal itu.

Doa 'Arsy

Saya penasaran mengenai Doa Arsy ini, apakah bener terdapat dalam kitab annawadir, setelah saya dapatkan kitabnya ternyata bener terdapat dalam kitab Annawadir dalam BAB “Faidah fi fadloili baitil maqdis” dalam fasal Faidah Doa arsy, halaman kitab 155 disitu di ceritakan jelas mengenai keutamaan Doa Arsy ini. Jika teman-teman punya kitabnya silahkan buka halaman 155-157 dan kitab annawadir sendiri terdiri dari 164 halaman.

Kitab Annawadir sendiri merupakan buah karya Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah al Qalyubi al Mishri as Syafi’i. Selain itu ada beberapa kitab buah karya beliau antara lain : Hasyiah Syarah al Ajurumiyah, Hasyiyah al Qa-lyubi. Kitab ini dicetakkan dalam satu kitab yang terkenal bernama Al Mahalli. Beliau wafat pada tahun 1070 H.

دعاء عرش

﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ﴾

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ الْحَكَمُ الْعَدْلُ الْمَتِيْنُ، رَبُّنَا وَرَبُّ أبَائِنَا الأَوَّلِيْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَ شَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ دَائِمٌ لاَيَمُوْتُ أَبَدًا بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَإِلَيْهِ الْمَصِيْرُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، وَبِه نَسْتَعِيْنُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ شُكْرًا لِنِعْمَتِهِ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ إقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ. وَسُبْحَانَ اللّهِ تَنْزِيْهًا لِعَظَمَتِه، أَسْأَلُكَ اللّهُمَّ بِحَقِّ اسْمِكَ الْمَكْتُوْبِ عَلى جَنَاحِ جِبْرِيْلَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَ بِحَقِّ اسْمِكَ الْمَكْتُوْبِ عَلى مِيْكَائِيْلَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الْمَكْتُوْبِ عَلى جَبْهَةِ إِسْرَافِيْلَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الْمَكْتُوْبِ عَلى كَفِّ عَزْرَائِيْلَ عَلَيْكَ يَارَبِّ. وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ سَمَّيْتَ بِه مُنْكَرًا وَنَكِيْرًا عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ وَأَسْرَارِ عِبَادِكَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ تَمَّ بِهِ الإِسْلاَمُ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ تَلَقَّاهُ أدَمُ لَمَّا هَبَطَ مِنَ الْجَنَّةِ فَنَادَاكَ فَلَبَّيْتَ دُعَاءَهُ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَكَ بِه شِيْثُ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ قَوَّيْتَ بِه حَمَلَةَ الْعَرْشِ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اَسْمَائِكَ الْمَكْتُوْبَاتِ فِى التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَالْفُرْقَانِ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اَسْمَائِكَ إِلى مُنْتَهى رَحْمَتِكَ عَلى عِبَادِكَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ تَمَامِ كَلاَمِكَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه إِبْرَاهِيْمُ فَجَعَلْتَ النَّارَ عَلَيْهِ بَرْدًا وَّسَلاَمًا عَلَيْكَ يَارَبِّ. وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه إِسْمَاعِيْلُ فَنَجَّيْتَهُ مِنَ الذَّبْحِ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه إِسْحَاقُ فَقَضَيْتَ حَاجَتَه‘ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه هُوْدٌ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ دَعَاكَ بِه يَعْقُوْبُ فَرَدَدْتَ عَلَيْهِ بَصَرَه‘ وَوَلَدَه‘ يُوْسُفَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه دَاودُ فَجَعَلْتَه خَلِيْفَةً فِى الأَرْضِ وَأَلَنْتَ لَه الْحَدِيْدَ فِى يَدِه عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ دَعَاكَ بِه سُلَيْمَانُ فَأَعْطَيْتَه مُلْكَ الأَرْضِ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه أَيُّوْبُ فَنَجَّيْتَه مِنَ الْغَمِّ الَّذِيْ كَانَ فِيْهِ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه عِيْسى ابْنُ مَرْيَمَ فَأَحْيَيْتَ لَه الْمَوْتى عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه مُوْسى لَمَّا خَاطَبَكَ عَلى الطُّوْرِ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَتْكَ بِه أسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ فَرَزَقْتَهَا الْجَنَّةَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لَمَّا جَاوَزُوْاالْبَحْرَ عَلَيْكَ يَارَبِّ، وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه الْخَضِرُ لَمَّا مَشَى عَلَى الْمَاءِ عَلَيْكَ يَارَبِّ. وَبِحَقِّ اسْمِكَ الَّذِيْ نَادَاكَ بِه مُحَمَّدٌ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلًّمَ يَوْمَ الْغَارِ فَنَجَّيْتَه عَلَيْكَ يَارَبِّ، إِنَّكَ أَنْتَ الْكَرِيْمُ الْكَبِيْرُ، وَحَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَصَلَّى اللّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ وَعَلَى ألِه وَصَحْبِه وَسَلَّمَ.

FAIDAH DAN MANFAATNYA :

1. Barangsiapa yang membaca doa Arasy ini seumur hidupnya sekali terutama sering ( dawam ) maka akan diberikan kepada orang tersebut oleh Allah Ta’ala di hari kiamat, cahaya yang terang seperti cahaya bulan tanggal 14 belas ( purnama ) sehingga semua orang menyangka orang tersebut dari golongan nabi atau golongan malaikat. Dan akan dikasih Buroq sebagai kendaraan menuju ke surga dan juga tanpa di hisab dulu serta tanpa di siksa dulu.
2. Jika orang tersebut mempunyai banyak dosa sepert banyaknya air laut ditambah banyaknya tetesan hujan ditambah banyaknya dedaunan ditambah banyaknya tumbuhan dan hewan yang ada di alam ini akan di ampuni oleh Allah Ta’ala karena berkahnya do’a Arasy ini.
3. Pada Hari kiamat nanti akan menuju shirothol mustaqim seperti kilat yang menyambar untuk ganjarannya membaca do’a Arasy ini.
4. Barangsiapa membaca do’a Arasy ini maka akan dituliskan pahala untuk orang tersebut sebanyak pahala seribu kali menunaikan ibadah haji ditambah seribu kali menunaikan ibadah umroh yang Mabrur.
5. Jika dibacakan kepada orang yang sedang sakit maka akan disembuhkan oleh Allah Ta’ala dari sakitnya.
6. Barangsiapa yang mempunyai banyak kebutuhan sekali baik di dunia dan akhirat maka dengan membaca do’a Arasy ini akan dikabulkan dan dipenuhi kebutuhannya oleh Allah Ta’ala.
7. Barangsiapa yang membawa do’a Arasy ini maka sama saja dengan yang membacanya untuk pahalanya dan juga akan di jaga oleh Allah Ta’ala dari upaya semua musuh-musuh dan dari kemudhorotannya pemerintah yang berkuasa di dunia dan dari kemudhorotannya bangsa jin, syaithon, iblis dan sebangsanya.
8. Jika do’a Aray ini dibawa oleh seorang isteri akan dimulyakan oleh suaminya
9. Barangsiapa yang membaca do’a Arasy ini 5 kali maka tentu akan bermimpi berjumpa dengan Rosululloh SAW pada waktu tidurnya. ( catatan : mimpi ini tidak mesti penampaknnya berwujud orang tetapi bisa juga berwujud nur Muhammad )
10. Banyak sekali faidah dan manfaatnya yang sebenarnya akan dirasakan sendiri oleh orang yang mengamalkannya juga tergantung dari niatnya untuk tujuan apa. Adapun manfaat yang saya tulis sebelumya juga saya ambil dari kutipan kitab An Nawadir. Insya Allah saya akan jelaskan lebih banyaknya lagi manfaatnya lain waktu tetapi jika anda paham dan mengerti isi dari Do’a Arasy ini baik secara artinya ataupun terlebih lagi secara sirr-nya, Insya Allah anda akan bisa mengamalkannya tergantung dari niat dan hajat anda.

Kamis, 20 Februari 2020

Kunci Kalimah Lailaha Illalloh


Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.

Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat laa ilaha illallah. Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan,”Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa menunaikan hak kalimat tersebut dan juga kewajibannya, maka dia akan masuk surga.”

Pernah ditanyakan kepada Wahb bin Munabbih : “Bukankah (ucapan syahadat) Tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah kecuali Allah sebagai kunci surga?“. Dia (Wahb) menjawab :

بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

“Betul, akan tetapi tidaklah ada kunci melainkan padanya ada gigi-gigi. Maka jika engkaumendatangkan kunci yang mempunyai gigi-gigi,kamu dapat membuka. Dan jika tidak, maka engkau tidak dapat membuka“ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy secara mu‘allaq, di atas hadits no. 1237].

Adapun gigi-gigi kunci yang dimaksud adalah syarat-syarat yang wajib dipenuhi dalam syahadat Laa ilaha illallaah". Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :

1.     Al-Ilmu, yang meniadakan kebodohan, yaitu mengetahui maknanya baik secara peniadaan maupun penetapannya.

Allah ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sembahan/ilah yang berhak diibadahi selain Allah” [QS. Muhammad ayat 19].

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. Aali ‘Imraan : 18].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang meninggal sedangkan ia dalam keadaan mengetahui bahwasannya tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah, melainkan ia akan masuk surga’ [Diriwayatkan oleh Muslim no. 26].

Maksudnya, pengetahuan untuk meniadakan peribadahan selain Allah, dan menetapkannya hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Oleh karena, pengertian kalimatLaa ilaha illallaah adalah pengesaan Allah dalam peribadahan kepada-Nya.

Kalimat yang agung ini mempunyai dua rukun:

a.      An-nafyu (peniadaan), yaitu pada kalimat ‘laa ilaha (لَا إِلَهَ) : meniadakan semua tuhan/sesembahan yang diibadahi selain Allah.

b.      Al-itsbat (penetapan), yaitu pada kalimat ‘illallaah’ (إِلَّا اللهُ) : menetapkan semua jenis peribadahan hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Peniadaan saja bukanlah tauhid. Begitu pula dengan penetapan saja bukanlah tauhid. Akan tetapi tauhid adalah penggabungan antara peniadaan dan penetapan sekaligus.

2.     Al-Yaqiin, adalah kesempurnaan ilmu tentangnya (kalimat Laa ilaha illallaah) yangmeniadakan keraguan.

Keimanan seseorang membutuhkan ilmu yakin, bukan sekedar ilmu dhann(persangkaan). Maka, orang yang mengucapkan kalimat laa ilaha illallaah harus benar-benar yakin terhadap makna yang terkandung di dalamnya dengan keyakinan yang pasti. Keyakinan menjadikan hati istiqamah bertauhid dengan tanpa keraguan. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” [QS. Al-Hujuraat : 15].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan (Rasul) Allah. Tidaklah seorang hamba yang berjumpa Allah dengan keduanya tanpa keraguan (syak), melainkan ia akan masuk surga” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 27].

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu:

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ، يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Orang yang engkau temui di balik tembok ini, ia bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah dengan keyakinan di hatinya, maka berikanlah kabar gembira kepadanya akan surga” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 31].

Orang yang ragu, maka ia termasuk orang munafik, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya” [QS. At-Taubah : 45].

3.     Al-Ikhlash, yang meniadakan kesyirikan, yaitu kecintaan kepada Allah, menginginkan keridlaan-Nya, memurnikan peribadahan hanya kepada-Nya semata dari semua kesyirikan. Hal itu dikarenakan hanya Allah lah yang berhak mendapatkannya (peribadahan dari makhluk-Nya), bukan selain-Nya.

Kalimat tauhid tidak akan bermanfaat tanpa keikhlashan yang meniadakan kesyirikan. Makna kesyirikan adalah menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah dalam semua hal yang menjadi kekhususan-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” [QS. Az-Zumar : 3].

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [QS. Al-Bayyinah : 5].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaha illallaah (tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah) secara ikhlash dari hatinya atau jiwanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 99].

4.     Ash-Shidq (jujur), yang meniadakan kedustaan yang menjadi penghalang kemunafikan. Seseorang yang mengucapkan laa ilaha illallaah harus jujur dari hatinya, hatinya sejalan dengan lisannya. Barangsiapa yang mengucapkannya dengan lisannya secara dhahir namun ternyata dusta secara batin (dalam hatinya), maka ia seorang munafik. Kemunafikan adalah menampakkan kebaikan secara dhahir dan menyembunyikan kejelekan secara batin.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ * يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ * فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” [QS. Al-Baqarah : 8-10].

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [QS.Al-Ankabuut : 2-3].

Allah ta’ala banyak berfirman tentang orang-orang munafik dalam Al-Qur’an. Bahkan, Ia berfirman secara khusus dalam satu surat, yaitu surat Al-Munaafiquun (orang-orang munafik), karena besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh mereka. Begitu juga dengan surat At-Taubah dimana banyak sekali ayat-ayat dalam surat ini berbicara tentang mereka. Surat At-Taubah disebut juga ‘Al-Faadlihah’ karena Allah menyingkap tirai-tirai keburukan dan kejahatan mereka yang tersembunyi, serta memperingatkan kaum muslimin agar berhati-hati dari sifat-sifat mereka. Mereka adalah musuh Islam dan kaum muslimin yang tidak tampak, sedangkan orang-orang kafir adalah musuh yang tampak.

5.     Al-Mahabbah, cinta yang merupakan lawan dari kebencian. Yaitu mencintai kalimat laa ilaha illallaah, segala sesuatu yang dikandungnya, dan bergembira karenanya.Seseorang harus mencintai dan melazimi kalimat tauhid, dan membenci apa-apa yang bertentangan/menbatalkan tauhid.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” [QS. Al-Baqarah : 165].

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَؤُلاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

“Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?" Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi” [QS. Al-Baqarah : 165].

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah semata, dan (3) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran (setelah Allah menyelamatkannya darinya) sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api neraka“ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 16].

Kecintaan adalah perkara yang sangat agung, bahkan ibadah diantaranya terbangun hal ini, yaitu rasa takut/khawatir, harap, dan cinta.

Kecintaan ada dua macam, yaitu kecintaan wajib dan kecintaan sunnah. Kecintaan wajib adalah kecintaan yang seseorang tidak dihukumi muslim kecuali jika ia dapat mewujudkannya; yaitu : kecintaan kepada Allah. Kecintaan yang mengkonsekuensikan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, meninggalkan apa yang diharamkan kepadanya. Apabila seseorang meninggalkan semua hal tersebut atau tidak mewujudkan sesuatu yang seseorang tidak akan masuk Islam kecuali dengannya; maka ia bukan seorang muslim. Apabila ia meremehkan sebagian kewajiban, maka imannya berkurang sesuai kadar kemaksiatan yang ia lakukan tersebut. Adapun kecintaan sunnah adalah kecintaan yang mendorong seseorang mewujudkan sesuatu yang dianjurkan/disunnahkan untuk melakukannya. Maka, kecintaan ini ada jika seseorang mencintai kalimat tauhid dan segala hal yang dikandungnya berupa perintah-perintah dan yang semisalnya; bergembira serta bahagia dengannya.

Poros kecintaan terletak pada ittiba’terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Aali ‘Imraan : 65].

Ayat ini dinamakan ayat mihnah (ujian), karena Allah ta’ala menguji seseorang yang mengaku mencintai Allah dengan ayat tersebut. Sebagian ulama terdahulu berkata:

تعصي الإله وأنت تزعم حبه --- هذا لعمري في القياس شنيع

لو كان حبك صادقا لأطعته --- إن المُحِبّ لمن يحب مطيع

“Engkau bermaksiat kepada Allah dan engkau mengklaim mencintai-Nya

demi hidupku, qiyas ini sangatlah buruk

Seandainya cintamu benar, niscaya engkau akan mentaati-Nya

sesungguhnya orang mencintai itu orang yang mencintai Dzat yang dicintainya”

6.     Al-Inqiyaad, yaitu tunduk dan patuh terhadap hak-hak kalimat laa ilaha illallaah berupa amal-amal kewajiban, secara ikhlash hanya untuk Allah  dan memohon keridlaan-Nya.

Tunduk terhadap hak-haknya (kalimat tauhid) adalah satu kriteria, karena banyak orang yang mengaku mengetahui makna kalimat ini, ikhlash, jujur, dan yakin; apabila mereka diperintahkan dengan satu perintah atau dilarang dengan satu larangan terhadap sesuatu, ia tidak mau tunduk dan patuh, sehingga batallah semua pengakuannya itu. Seandainya ia jujur, yakin, dan cinta secara hakiki; niscaya ia akan tunduk dan patuh terhadap kalimat ini baik secara dhahir maupun batin, ikhlash hanya kepada Allah, mengharap keridlaan-Nya, dan takut terhadap kemurkaan dan hukuman-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan” [QS. Luqmaan : 22].

7.     Al-Qabul, penerimaan yang menafikkan penolakan. Yaitu menerima dan menunaikan Tauhid dengan hati dan lisan. Allah telah mengisahkan kepada kita tentang kabar yang telah lampau berkenaan akibat/kesudahan orang-orang terdahulu dan menimpakan siksa sebab menolak dan enggan men-Tauhid-kan Allah.

Seseorang harus menerima kalimat laa ilaha illallaah dengan hati dan lisannya. Barangsiapa yang tidak menerimanya dan menolaknya, serta bersikap sombong; maka ia kafir sebagaimana orang-orang kafir Quraisy menolaknya dengan penentangan, kesombongan, tanpa mau menerimanya.

Allah ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an tentang berita-berita di masa lampau, yaitu keselamatan orang-orang yang mau menerimanya serta celakanya orang-orang yang menolak dan enggan terhadapnya. Begitu juga dengan adanya pahala yang Allah janjikan bagi orang-orang yang mau menerimanya dan adzab yang Allah ancamkan bagi orang-orang yang menolaknya.

Allah ta’ala telah berfirman:

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ * قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ * فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu” [QS. Az-Zukhruf : 23-25].
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?" [QS. Ash-Shaaffaat : 35-36].

Namun demikian, perlu digarisbawahi di sini bahwa tetapnya keislaman seseorang di dunia cukup dengan pengucapan dua kalimat syahadat. Banyak ulama yang menetapkan hal ini, yang kemudian setelah itu dituntut untuk mendirikan shalat, membayar zakat, dan semua perkara-perkara syari’at. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ، حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، عَصَمُوا مِنِّي، دِمَاءَهُمْ، وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah. Apabila mereka mengucapkan ‘tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah’, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, kecuali dengan haknya (Islam); sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 21].

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ، فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ، فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ، فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَقَتَلْتَهُ؟ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ، قَالَ: " أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ، حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟ " فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ، قَالَ: فَقَالَ سَعْدٌ: وَأَنَا وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ مُسْلِمًا حَتَّى يَقْتُلَهُ ذُو الْبُطَيْنِ يَعْنِي أُسَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ، وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، فَقَالَ سَعْدٌ: قَدْ قَاتَلْنَا حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ، وَأَنْتَ، وَأَصْحَابُكَ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا حَتَّى تَكُونُ فِتْنَةٌ

Dari Usaamah bin Zaid, ia berkata : Kami pernah dikirim Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamdalam satu pasukan perang. Lalu kami sampai di Al-Huraqaat, daerah Juhainah pada waktu shubuh. Maka aku temukan seorang laki-laki. Ia mengucapkan Laa ilaha illallaah, lalu aku pun menikamnya. Kemudian dalam diriku aku ada ganjalan karenanya, sehingga aku sampaikan hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Apakah ia telah mengucapkan Laa ilaha illallaah lantas engkau tetap membunuhnya ?”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanya mengucapkannya karena takut terhadap hunusan pedang”. Beliau bersabda : “Tidakkah engkau belah hati orang tersebut sehingga engkau tahu apakah hatinya mengucapkan Laa ilaha illallaah atau tidak ?”. Beliau terus-menerus mengucapkannya kepadaku hingga berangan-angan aku baru masuk Islam pada hari itu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4269 dan Muslim no. 96].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَقَدْ عُلِمَ بِاْلاِضْطِرَارِ مِنْ دِيْنِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَاِتَّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأُمّةُ أَنَّ أَصْلَ اْلإِسْلاَمِ وَأَوَّلَ مَا يُؤْمَرُ بِهِ الْخَلْقَ : شَهَادَةُ أَنَ لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فَبِذَلِكَ يَصِيْرُ الْكَافِرُ مُسْلِمًا وَالْعَدُوُّ وَلِيًا وَالْمُبَاحُ دَمَهُ وَمَالَهُ : مَعْصُومُ الدَّمَ وَالْمَالَ

“Telah diketahui dengan pasti dari agama Rasulshallallaahu ‘alaihi wa sallam dan umat telah bersepakat terhadapnya bahwa pokok Islam dan hal yang diperintahkan pertama kali kepada makhluk adalah persaksian tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad adalah utusan (Rasul) Allah. Karenanya seorang kafir menjadi muslim, musuh mejadi wali, darah dan hartanya dihalalkan, menjadi darah dan hartanya dilindungi….” [Fathul-Majiid, hal. 89].

Ibnush-Shalaah rahimahullah berkata:
وَحُكْم الْإِسْلَام فِي الظَّاهِر ثَبَتَ بِالشَّهَادَتَيْنِ....

“Hukum Islam secara dhahir ditetapkan dengan ucapan dua kalimat syahadat….” [Syarh Shahiih Muslim lin-Nawawiy, 1/12].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَمِنْ حُجَج مَنْ أَجَازَ ذَلِكَ قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أُمِرْت أَنْ أُقَاتِل النَّاس حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَه إِلَّا اللَّه ، فَإِذَا قَالُوهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ " فَيُحْكَم بِإِسْلَامِ مَنْ تَلَفَّظَ بِالشَّهَادَتَيْنِ - وَلَوْ كَانَ فِي نَفْسِ الْأَمْر يَعْتَقِد خِلَاف ذَلِكَ -

“Di antara hujjah-hujjah ulama yang membolehkan hal tersebut adalah sabda Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan/ilah yang berhak disembah selain Allah. Apabila mereka mengucapkannya, terpeliharalah dariku darah mereka’. Maka orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat dihukumi Islam (secara dhahir), meskipun sebenarnya ia berkeyakinan lain dari itu” [Fathul-Baariy, 13/174].

Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata:

ومن المعلوم بالضرورة أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يقبل مِنْ كل منْ جاءه يريدُ الدخولَ في الإسلامِ الشهادتين فقط ، ويَعْصِمُ دَمَه بذلك ، ويجعله مسلماً ، فقد أنكر على أسامة بن زيد قتلَه لمن قال : لا إله إلا الله ، لما رفع عليه السيفَ ، واشتدَّ نكيرُه عليه

“Dan termasuk hal yang telah diketahui dengan pasti bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerima siapa saja yang datang kepada beliau yang ingin masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja, dan beliau melindungi darahnya dan menjadikannya seorang muslim. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingkari dengan sangat keras terhadap Usaamah bin Zaid yang membunuh orang yang mengucapkan Laa ilaha illallaah ketika ia (Usaamah) mengangkat pedang kepadanya” [Jaami’ul-‘Ulum wal-Hikam, hal. 207].

وبهذا الذي قرَّرناه يظهر الجمع بين ألفاظ أحاديث هذا الباب ، ويتبين أنَّ كُلَّها حقٌّ ، فإنَّ كلمتي الشهادتين بمجردهما تَعْصِمُ من أتى بهما ، ويصير بذلك مسلماً

“Dengan penjelasan kami ini maka nampak jelas penggabungan/penjamakan lafdh-lafadh hadits  dalam bab ini, dan menjadi jelas bahwa semuanya benar. Sesungguhnya dua kalimat syahadat saja sudah dapat melindungi orang yang mengucapkannya, dan menjadikannya seorang muslim…” [idem, hal. 209].

Begitu juga keislaman ditetapkan bagi orang yang dilahirkan dari kedua orang tua muslim atau perwaliannya milik kaum muslimin sejak kecil sebelum ia mencapai baligh. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1385].

Fithrah yang dimaksudkan di sini adalah Islam sebagaimana firman Allah ta’ala:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” [QS. Ar-Ruum : 30].

Apa yang dipaparkan di sini perlu disampaikan karena sebagian orang mencampurkan hukum Islam secara duniawi dan ukhrawiy. Mereka menyangka penghukuman keislaman seseorang (di dunia) mengkonsekuensikan hukum selamatnya ia di akhirat; atau mereka menyangka bahwa keislaman seseorang tidak ditetapkan kecuali setelah memahami syarat-syarat kalimat Laa ilaha illallaah yang disebutkan di atas. Ini keliru. Sebagaimana diketahui bahwa kebanyakan dari syarat-syarat tersebut merupakan amal-amal hati, bukan amal-amal anggota badan, sehingga sangat sulit untuk menelitinya/memastikannya. Terkait dengan itu, sekedar pengucapan dua kalimat syahadat memang tidak cukup menyelamatkan seorang hamba di sisi Allah (kelak di akhirat) kecuali jika ia mewujudkan/merealisasikan syarat-syaratnya. Adapun penghukuman keislaman seseorang di dunia cukup dengan pengucapan dua kalimat syahadat, hingga datang keterangan yang jelas yang membatalkan keislamannya.

Dengan kalimat Tauhid inilah, bumi dan langit dapat tegak. Allâh Azza wa Jalla menjadikan fitrah seluruh makhluk di atas kalimat ini. Di atasnya agama dan kiblat itu dibangun, serta pedang-pedang jihad dihunuskan. Ia murni hak Allâh Subhanahu wa Ta’ala atas seluruh hamba-Nya, sekaligus merupakan kalimat yang melindungi darah, harta, dan keturunan di kehidupan dunia, kemudian menyelamatkan manusia dari siksa kubur dan Neraka. Ia adalah lembaran terbuka yang seseorang itu tidak akan masuk Surga, melainkan dengannya.
Ia adalah tali yang jika seseorang tidak berpegang dengannya, niscaya dia tidak akan sampai kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ia adalah kalimat Islam dan kunci pembuka Surga yang penuh keselamatan. Dengannya, manusia terbagi menjadi orang sengsara, bahagia, diterima, ataupun ditolak. Dengannya juga, negeri kekufuran terpisah dengan negeri keimanan, serta terbedakan antara negeri kenikmatan dengan negeri kesengsaraan dan kehinaan. Ia adalah tiang yang mengandung perkara yang wajib sekaligus yang sunnah.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْـجَنَّـةَ.

Barangsiapa akhir ucapannya adalah LÂ ILÂHA ILLALLÂH pasti masuk Surga.

Ruh dan rahasia kalimat ini adalah pengesaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam kecintaan, pemuliaan, pengagungan, takut dan berharap (hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ), dan perkara-perkara lain yang mengiringinya; berupa tawakkal, taubat, keinginan, dan ketakutan. Seorang hamba tidak mencintai selain-Nya. Kalaupun mencintai selain Allâh Azza wa Jalla itu karena kecintaan itu merupakan bagian dari cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan merupakan sarana untuk menambah rasa cinta kepada Allâh Azza wa Jalla . Seorang hamba juga tidak takut kepada selain Allâh Azza wa Jalla , tidak berharap kepada selain-Nya, tidak bertawakkal selain kepada-Nya, ia hanya mengharap kepada Allâh, tidak takut selain kepada-Nya, hanya ber-sumpah dengan nama-Nya, tidak bernadzar selain kepada-Nya, hanya bertaubat kepada-Nya, tidak mentaati selain perintah-Nya, hanya mengharapkan ganjaran dari-Nya, tidak memohon pertolongan ketika terjadinya kesulitan selain kepada-Nya, hanya bersandar kepada-Nya, tidak sujud selain kepada-Nya, serta hanya menyembelih untuk-Nya dan dengan nama-Nya. Seluruh perkara ini terkumpul pada satu kalimat, yaitu, “Tidaklah disembah dengan semua macam ibadah, melainkan hanya Allâh semata.” Inilah realisasi dari kalimat syahadat لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ.

Oleh karena itulah, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan api neraka bagi orang yang mengucapkan dan merealisasikan kalimat syahadat لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ dengan benar. Mustahil orang yang merealisasikan dan menerapkan syahadat ini masuk Neraka. Pernyataan ini sesuai dengan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya.” [Al-Ma’ârij/70:33]

Hamba tersebut telah melaksanakan syahadat tersebut secara lahir dan batin, baik melalui hati maupun anggota badannya.

Sebagian manusia ada yang syahadatnya mati, sebagian lagi syahadatnya tertidur sehingga harus dibangunkan supaya terjaga, sebagian lagi ada yang syahadatnya berbaring, dan sebagian lagi ada yang syahadatnya miring hampir berdiri. Kedudukan syahadat dalam hati seperti kedudukan roh terhadap badan. Ada roh yang mati, roh yang sakit dan lebih dekat kepada kematian, roh yang lebih dekat dengan kehidupan, serta ada roh yang sehat dan melaksanakan kemaslahatan badan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنِّـيْ لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَا يَقُوْلُـهَا عَبْدٌ عِنْدَ الْـمَوْتِ إِلَّا وَجَدَتْ رُوْحُهُ لَـهَا رُوْحًا.

Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang tidaklah seorang hamba mengucapkannya ketika dia meninggal dunia, melainkan rohnya akan mendapatkan roh baginya.

Dengan demikian, kehidupan roh bergantung pada kalimat tersebut, seperti halnya kehidupan badan tergantung dari keberadaan roh; Juga sebagaimana orang yang meninggal di atas kalimat ini sehingga berhak berada di Surga dan bergerak bebas di dalamnya. Oleh karena itu, barangsiapa merealisasikan dan melaksanakan inti kalimat ini niscaya rohnya akan bergerak bebas dalam Surga, bahkan tempat tinggal dan hidupnya menjadi kehidupan yang terbaik. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” [An-Nâzi’ât/79:40-41]

Surga adalah tempat tinggal bagi mereka pada hari Pertemuan dengan-Nya kelak.

Surga pengetahuan, kecintaan, kedekatan dengan Allâh , kerinduan terhadap pertemuan dengan-Nya, senang dengan Allâh, dan ridha terhadap-Nya merupakan tempat tinggal rohnya di dunia. Barangsiapa surga tersebut adalah tempat tinggalnya di dunia maka Surga yang abadi akan menjadi tempat tinggalnya di akhirat. Sebaliknya, orang yang terhalang dari Surga dunia maka dia akan lebih terhalang dari Surga yang abadi. Orang-orang yang melakukan kebajikan berada di dalam Surga kenikmatan meskipun mereka mengalami kesulitan dan kesempitan hidup di dunia; sedangkan orang-orang yang durhaka berada dalam Neraka kepedihan meskipun kehidupan dunia mereka serba cukup. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl/16: 97]

Kehidupan yang baik adalah Surga dunia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Barangsiapa yang Allâh menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allâh kesesatannya, niscaya Allâh menjadikan dadanya sesak lagi sempit…” [Al-An’âm/6:125]

Kenikmatan manakah yang lebih baik dibandingkan kelapangan dada ? Dan, adzab manakah yang lebih pedih daripada sempitnya dada? Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allâh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allâh . Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” [Yûnus/10:62-64]

Mukmin yang ikhlas kepada Allâh merupakan manusia yang paling baik hidupnya, paling tenteram pikirannya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya. Inilah Surga yang disegerakan sebelum Surga yang abadi.

Rahasia Turunnya Kalimah Basmallah


Tersebut dalam beberapa Hadits

قَالَ : لَـوْ كَـانَـتِ اْلأَشْجَارُ اَ قْــلاَ مَا وَالْــبِحَارُ مِـدَادًا وَ جْـتَــمَـعَـتِ الْـجِـنُّ وَ اْلإِ نْـسُ وَ الْــمَـــــــــلا ئِــكَــةُ كِــــتَـا بـًا وَ كِـــتَـــبُـوْا مَـعْـنــــى لبِـسْـــمِ الـلّـــهِ الـرَّ حْـمـنِ الـرَّ حِــيْــــــمِ اَ لْــفَ اَ لْــفِ سَــنَــــــةٍ لَــمَـا قَـدْرُوْا عَـشْـرَ عَـشِــيْـرَ ةٍ

“Nabi Saw bersabda : ”Seandainya pohon-pohon dijadikan pena, dan semua lautan dijadikan tinta, kemudian berkumpul seluruh Jin dan Manusia dan ditambah para Malaikat untuk membuat Kitab, dan terus-menerus mereka menulis ”Bismillahir-Rohmaan-Nirrohiim” sejuta tahun, mereka tidak akan sanggup memberi makna, walaupun hanya satu sepersepuluhnya”. (H.R. Anas bin Malik dari Nabi)

قَالَ : كَانَ جِـبْـرِ يْـلُ اِذَاجَآءَ نِـى بِـالْــوَحْـيِ اَوَّ لُ مَـا يَــلْـــقَى عَـلَــيَّ لبِـسْــــــــــمِ الـلّــــــــــــهِ الـرَّ حْـمـنِ الـرَّ حِــيْـــــــــــــــمِ

“Nabi Saw bersabda : ”Adalah Jibril apabila datang kepadaku. Pertama yang diberikan kepadaku (adalah) “Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim”.
(H.R. Daroqhutny dan Ibnu ‘Umar Ra. dari Nabi Saw)

وَ قَـالَ لَــمَّـا نَــزَ لْـتَ لبِـسْـــــــمِ الـلّـــــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّ حِــيْـــــــمِ فَـرَ حَ اَ هْـلَ الـسَّــمـوَ اتِ مِنَ الْـمَـــلاَ ئِــكَــةِ وَ اهْــتَــزَّ الْــعَـرْشُ لِــنُــزُوْ لِــهَـا وَ نَــزَ لَ مَــعَــهَا اَ لْــفُ مَـلَـكٍ وَ زَاتِ الْـمَــلاَ ئِـكَـــةُ اِيْــمَا نًـا وَخَـرَ جَتْ الْـجَـان ُّ عَـلَى وُجُـوْ هِــهِـمْ وَ تَـحَــرَّ كْـتَ اْلاَ فْـــلاَ كُ وَ ذَ لَّـتْ لِــعَــظْــمَــتِـــهَـا اْلاَ مْـــلاَ كُ

“Dan Nabi Saw. bersabda : “Ketika turun “Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim”. bergembiralah ahli langit dari Bangsa Malaikat. Dan bergoncanglah ‘Arasy, karena turunnya. Dan turun pula besertanya 1000 Malaikat, dan bertambah pula ke-Imanan para Malaikat. Dan merundukkan muka segala (bentuk) jin, dan bergetarlah seluruh ‘Alam. Gemetar pula segala sendi-sendi dikarenakan turunnya”. (H.R. A’isyah Ra)

وَ اَخْـرَ جَ اَ بــُوْ نُــعَــيْـمِ وَا بْـن الـسُّــنِّى عَنْ عَـائِــشَــةَ رَضِيَ الـلّـــهُ عَــنْــهَـا اَ نَّـــهَـا قَـالَـتْ لَـــمَّـا نَــزَ لَـتْ لبِـسْـــــــمِ الـلّـــــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّ حِــيْـــــــمِ. سَـــبَّـحَـتِ الْــجِــبَـالُ حَــتَّى سَــمِــــعَ اَهْــلُ مَــكَّــــةَ وَ مَنْ بِــهَـا فَــقَـالُـوْا سَــحَّـرَ مُـحَــمَّـدٌ نِ الْــجِــبَـالُ فَــبَـعَـثَ الـلّـــــــــــــهُ دُخَـانًـا حَــتَّى اَظَــلَّ عَـلى اَهْـلِ مَـكَّــةَ فَــقَـالَ رَسُـوْ لُ الـلّــــــــهِ صَـلَّى الـلّــــــهُ عَـلَـــيْــهِ وَسَــلَّـمَ : مَنْ قَــرَاءَ لبِـسْــــــمِ الـلّــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّحِــيْــــــمِ. مُـوْ قِــنًـا سَـــبَّـحَـتْ مَــعَــهُ الْـجِــــــــــــــبَـالَ اَ لاَ اَ نَّـــهُ لاَ يَــسْــمَــعَ مِــنْـــهَـا

“Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim bin Ibnu Sunny. Dari Siti A’isyah Ra. bahwa ia berkata : ”Ketika turunnya “Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim” maka seluruh gunung-gunung mengucapkan Tasbih, sehingga penduduk Makkah dan orang-orang disekitarnya mendengarnya, kemudian mereka berkata : “Kiranya Muhammad menyihir gunung-gunung itu". Kemudian Allah membangkitkan awan. Sehingga penduduk Makkah menjadi teduh. Kemudian Nabi Saw bersabda : “Barang siapa (mudah Lidahnya) membaca Bismillahir-Rohmaanir-Nirrohiim dengan yakin. Maka akan bertasbihlah gunung-gunung itu, hanya saja ia tidak mendengarnya”.
(H.R. Ibnu Majah. Daroqhutny)

وَ اَخْــرَجَ الـدَّ يــْـلَـمِى عَنِ ا بْــنِ مَـسْـعُـوْدِ رَضِيَ الـلّــــهُ عَــنْــهُ قَـالَ رَسُـوْ لَ الـلّـــــهِ صَــلَّى الـلّــــــهُ عَــلَــيْــهِ وَ سَــلَّـمَ : مَنْ قَــرَاءَ لبِـسْـــــــمِ الـلّـــــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّ حِــيْـــــــمِ. كَــتَـبَ لَـــــهُ بِكُــلِّ حَـرْفٍ اَ رْ بـَــعَــةُ اَلاَ فٍ حَسَـنَـةٍ وَ مْحَى عَــنْـهُ اَرْ بَــعَـةَ اَ لاَ فِ سَــيِّــــئَــةٍ وَ رَ فَـــعَ لَــهُ اَرْ بـَــعَــةُ اَ لاَ فِ دَ رَجَــــــةٍ

“Diriwayatkan oleh Ad-Dailamy. Dari Ibnu Mas’ud Ra. bahwa bersabda Rasulullah Saw : “Barang siapa membaca Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim, maka dituliskan baginya tiap-tiap huruf 4000 kebajikan dan dihapuskan darinya 4000 keburukan. Dan diangkatkan untuknya 4000 Derajat”. (Ad-Dailamy)

وَ اَخْــرَجَ اَبــُـوْ الـشَّــيْــخِ عَنْ صَــفْــوَانٍ بْـنِ سُــلَــيْـمٍ قَـالَ : اَ لْـجِـنُّ يَـسْــتَــعْــمَــلُـوْنَ مَــتَـاعَ اْلإِ نْـسِ وَ ثَـــيَـا بَــهُـمْ فَــمَـنْ اَخَــذَ مِـنْـكُـمْ ثَــوْ بًـا اَوْوَ ضَــعَــهُ فَــلْــيَــقُــلْ لبِـسْــــــمِ الـلّـــــــــــــــــــــــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّحِــيْــــــمِ. فَـإِ نَّ اِسْـــمُ الـلّـــــــهَ تَـــعَـالـىَ طَـا بِـــعُ

“Telah dikeluarkan oleh Abu Syaikh dari Sofwan bin Sulaim. Nabi Saw. bersabda : ”Jin itu suka memakai barang-barang kepunyaan manusia untuk pakaian mereka. Oleh karena itu, barang siapa mengambil atau meletakkan pakaian. Maka ucapkanlah “Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim”. Karena sesungguhnya Nama Allah yang dibacakan itu akan merupakan stempel (cap)”. (H.R. Ad-Dalamy dan daroqhutny)

وَ رُوْيَ عَنِ ا بْـنِ عَــبَّـاسٍ رَضِيَ الـلّـــهُ عَــنْــهُــمَـا اَ نَّـــهُ قَـالَ رَسُـوْ لُ الـلّـــهِ صَــلَّى الـلّـــهُ عَــلَــيْــهِ وَ سَـــلَّـمَ : مَنْ قَـالَ لبِـسْــــــمِ الـلّـــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّحِــيْـــــــــمِ. وَ لاَ حَـوْ لَ وَ لاَ قُــوَّ اةَ اِلاَّ بِـالـلّـــــهِ الْــعَــلِـيِّ الْـعَـظِــيْــمِ. صَـرَ فَ الـلّـــهُ عَــنْــهُ سَــبْــعِــيْـنَ بَـا بًـا مِنْ اَ نْــوَاعِ الْــمَــلاَ يَـا وَ الَّـــهْـمِ وَ الْــغَـــمِّ وَ الـلَّــهْــــــــــــــــــــم

“Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Barangsiapa mengucapkan “Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim” dan “Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil ‘Aziim” Allah akan melepaskan ia dari 70 pintu bala yang bermacam-macam dan kesukaran duka cita dan kesakitan”. (H.R. Ibnu Majah dan Ad-Daroqhutny)

اَخْـرَ جَ اِ بْـنِ أَبِـيْ حَـاتِــم وَ الْـحَـكِــيْـمِ وَ الْــبَــيْــهَـقِـى وَ اَ بـُـو ذَرٍّ الْـهَـرْوِى وَ الْـخَـطِــيْـبُ الْـبَـخْـدَادِى عَنِ ابـْـنِ عَــبَّـاسِ رَضِيَ الـلّـــهُ عَــنْــهُــمَـا. اَنَّ عُــثْــمَـانَ ا بـْنِ عَــفَّـانِ سَــأَ لَ الـنَّــبِــيَّ عَــلَــيْــهِ الـصَّــلاَ ةُ وَ الـسَّــلاَ مُ عَنْ لبِـسْــــــمِ الـلّـــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّحِــيْــــــمِ. فَــقَـالَ هُـوَ اِسْـمٌ مِنَ الـلّــــهِ. وَ مَـا بَــيْــنَــهُ وَ بـَــيْـنَ اِسْـــمِ الـلّـــهِ اْلأَ كْــبَــرِ اِلاَّ كَــمَـا سَــوَا دِ الْـعَــيْـنِ وَ بـَــيَـا ضِــهَـا بِـالْــقُـرْبِ

“Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim. Al-Baihaqi. Abu Dzaar Al-Harwy. Dan Al-Khatib Al-Baghdadi. Dari Ibnu ‘Abbas Ra. dari ‘Utsman bin Affan. Telah bertanya kepada Nabi Saw. tentang “Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim” dan Beliau berkata : “Itulah isim dari Asma’ Allah Ta’ala, antara DIA dengan Nama Allah “Akbar” seperti jarak biji mata hitam dengan putihnya. begitulah (karena terlalu) dekatnya”. (H.R. Baihaqi)

Sebutir debu serta kesekejapan hidup diubah melalui tradisi menjadi sebuah bintang di cakrawala, yang diberkahi Alloh dengan kemapanan dan merefleksikan keabadian Al-ilah. Menurut doktrin tradisional, realitas batin alam semesta mengungkapkan diriNYA senDIRI melalui mata batin atau penglihatan intelektual“karena mata batin merupakan alat persepsi yang berdasarkan keselarasan, semesta raya”.

Dalam makrokosmos, keselarasan alam semesta terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin rendah, karena jauh sebelum Tuhan menciptakan manusia pertama, yakni Adam As (Abul Basyar) AL-Ilah yang Maha Agung lebih dulu menciptakan suatu alam yang disebut ”ALAM LAHUT / alam tanpa batas yang di huni oleh NUR MUHAMMAD lalu di terus kan ke “Alam Jabbarut & Malaakut”, dan dihuni oleh para malaikat-malaikat Allah yang tak terbilang banyaknya.

Sebagian dari kelompok para Malaikat-Malaikat Allah tersebut adalah kelompok Malaikat Muqarrabin, Malaikat Kurubiyyin, Malaikat Kiraman Katibin, Malaikat Arsyi, Malaikat Hafadzah dan Malaikat Aran Jabaniyyah, Malaikat Arsyi. Dan masih banyak lagi golongan Malaikat-malaikat lainnya yang tidak dapat disebutkan disini.

Para malaikat-malaikat ini masing-masingnya mempunyai sayap, yang sayapnya saja secara langsung melambangkan “Hakikat realitas penerbangan dan pendakian melawan seluruh hal yang merendahkan derajat serta menurunkan kekuatan atas dunia ini, yang akhirnya mengantar pada kebebasan dari kungkungan duniawi yang serba terbatas”. Seperti tersebut didalam Firman-Nya : “ Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”. (Q.S. 35 : 1).

“Alam Jabbarut & Malakut” terdiri dari tujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” yang pada puncaknya terdapat singgasana Al-Ilah (Al-Arsy). Alloh yang menciptakan singgasana (Al-Arsy) dari jambrud hijau dan keempat tiangnya terbuat dari batu merah delima, yang dibawa oleh delapan Malaikatul Arsy, yang selalu bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya. Ketujuh lembah “Qaf” itu sendiri, adalah Lembah Thalab (pencarian), Lembah Isyq (cinta), Lembah Istighna (kepuasan), Lembah Hayrat (kekaguman), Lembah Faqr (kemiskinan), Lembah Ma’rifah (gnosis), dan Lembah Fana (lebur).

Dimasing-masing ketujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” ini terdapat (tersimpan) tujuh buah huruf Al-Hijaiyyah, yakni huruf-huruf yang ada pada kalimah suci “Bismillah”. Pegunungan kosmik “Qaf” merupakan pesona spiritual dari keindahan dan keAgungan Tuhan, yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk kedalam lautan rahasia Tuhan, yang dimulai dengan kerinduan kepada-Nya, dan bergerak secara perlahan menuju penyingkapan “hakikat Bismillah” yang suci dan mensucikan, dan akhirnya mencapai peleburan (Fana) dengan melintasi horizon esoterisme “Qaf” yang sangat luas dan tanpa batas. “Qaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia” (Q.S. : 50 : 1)

Ekspresi universal kehidupan “Alam Jabbarut & Malaakut” dan jalan inisiatik, dimungkinkan oleh tingginya tingkatan spiritual (maqam) yang sekaligus menjadi awal cikal bakal penciptaan langit dan bumi yang pada waktu itu (di alam jabbarut malakut), langit masih berupa asap, asap yang keluar dari ketujuh lembah “Qaf”, kemudian Allah satukan dan dari asap tersebut dijadikannya tujuh lapis langit. Seperti tersebut dalam firman-Nya: “ Yang menciptakan tujuh lapis langit “ (Q.S. : 67 : 3). Dan firman-Nya lagi : “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit yang kala itu masih berupa asap” (Q.S. : 41 : 11). Setelah tujuh lapis langit terbentuk, kemudian Allah Swt menciptakan tujuh lapis bumi yang diambil dari pegunungan kosmik “Qaf” pula. “ Allah-lah yang mnciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi” (Q.S. : 65 : 12)

Catatan : Pengertian mengenai penciptaan langit dan bumi ini adalah “langit akhirat dan bumi akhirat”, karena setelah penciptaan langit dan bumi akhirat ini, Allah Swt menciptakan tujuh surga dan tujuh neraka, barulah langit dan bumi dunia Allah ciptakan dalam masa yang pada saat itu bumi masih dalam keadaan gelap gulita.

Seperti yang Allah Swt firmankan didalam Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami sedikitpun tidak ditimpa kelelahan “ (Q.S. : 50 : 38)

Al-ilah Yang Maha Esa menciptakan dunia setelah DIA (Allah) menciptakan surga dan neraka berikut wildan dan bidadari. Dunia saat itu masih dalam keadaan gelap gulita, dan setelah Nabi Adam As dan Siti Hawa terusir dari surga, kemudian turun ke dunia, barulah Allah Swt menciptakan cahaya yang menerangi dunia (matahari-bulan-dan bintang), walau sebenarnya penciptaan cahaya (cahaya Muhammad) ini lebih dulu dari pada penciptaan Alam Jabbarut Malaakut, yakni “Nur Muhammad”

Al-haq adalah “cahaya langit dan bumi”. Demikian penegasan Al-Qur’an yang kemudian dimensi kosmogonis dan kosmologisnya diperkuat oleh Rasul Saw. Dengan sabdanya : “Yang pertamakali diciptakan oleh Alloh adalah cahaya / Nur muhammad” yang menjadi awal dari tajallinya (tanpak) alam dan menjadi awal mulanya kehidupan serta menjadi RATU nya RUH dan di sebut dg RUH idlofi

“Cahaya bagaikan kutub-kutub spiritual yang menyala, laksana norma dan teladan-teladan yang hidup dan menjadi perhatian para pencari kebenaran dimana dan kapanpun yang sekaligus merupakan realitas surgawi dibalik bentuk keduniawian”.

“Hakikat Bismillah adalah gema panggilan Al-haq kepada manusia untuk kembali ke sumber spiritualnya“ .

Sebenarnya seluruh manifestasi berasal dari ketujuh huruf ini (Ba Sin Mim Alif Lam Lam Ha), karena bagaimana mungkin Yang “Esa” melambangkan sesuatu yang lain dari huruf-huruf yang akan mengakui keEsaan-Nya, apalagi penggabungan dari ketujuh huruf-huruf ini jika berbentuk huruf Arab yang memanjang dari kanan ke kiri, akan merupakan lambang penerimaan prinsip material dan pasif, dalam arti kata “ketaqwaan mutlak” serta dimensi keindahan yang menyempurnakan ke-Agungan diri-Nya, dan sekaligus melambangkan pusat teragung yang dari-Nya segala sesuatu itu berasal dan kemana segala sesuatu itu kembali.

“Manusia harus percaya kepada yang suci dan terlibat didalamnya, kalau tidak, maka Yang Suci akan menyembunyikan dirinya dibelakang selubung yang tidak dapat diraba dan dilalui, yang pada hakikatnya adalah, selubung jiwa rendah manusia “.

Kesucian “Bismillah” mampu menciptakan sesuatu yang bersifat spiritual sekaligus sensual, menyingkap keindahan dunia ini beserta sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk alam transendental yang indah melalui teofani Tuhan, karena hakikat Bismillah masih suci dan dicari oleh sebagian masyarakat Islam, dan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik “spirit Bismillah” itu sendiri.

Nama “Allah” adalah kunci khazanah misteri Tuhan dan pintu gerbang menuju Yang Gaib dan Yang Nyata. Itulah realitas yang berdasarkan identitas esensial Tuhan dan kesucian nama-Nya. Itulah alasan mengapa para Ahlul Hukama selalu merenungi dan menyebutkan bahwa ; “Huruf-huruf didalam “Bismillah” turun dari dunia spiritual ke dunia fisikal dan memiliki substansi spiritual batin ketika mengenakan selubung dunia gaib yang mampu menembus kedalam makna batinnya, dan dapat merenungkan simbol prinsip-prinsip realitas maupun pedoman yang terwujud”

“Al’Qur’an bagaikan sepercik cahaya yang menyinari kegelapan eksistensi manusia di dunia ini”.

Misteri Zat yang menyatakan identitas, yang sekaligus merupakan sifat Tuhan yang mutlak dan juga transendensi, mencakup seluruh aspek ketuhanan yang mungkin termasuk dunia dengan pembiasan pembiasan dari-Nya yang mengindividualisasi tak terkira banyaknya. Maka dari itu orang yang mencintai Tuhan akan selalu “mengosongkan hatinya dari segala sesuatu selain-Nya” (ini terapi yang sangat ampuh untuk mencapai puncak kekhusyuan didalam shalat); karena “ Alif Lam Lam Ha” akan menyerbu hatinya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk sesuatu yang lain, karena seseorang hanya perlu mengetahui dan menyelami hakikat “Bismillah” ini untuk mengetahui semua yang dapat diketahui

Dalam kitab al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (8/92) disebutkan,

اتفق أكثر الفقهاء على أن التسمية مشروعة لكل أمر ذي بال ، عبادة أو غيرها

“Mayoritas fuqaha’ bersepakat bahwa tasmiyyah (membaca Basmalah,-pent) disyariatkan pada perkara yang penting; ibadah atau selainnya”.

Kesimpulan ini didasarkan kepada hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يَبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillah maka ia terputus.”

Dalam redaksi lain,

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع

“Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka dia akan terputus.” (HR. Ibnu Hibban dan selainnya. Ibnu Shalah menyatakan hadits ini hasan)

Maksud terputus adalah tidak memberikan hasil baik atau berkurang barakahnya.

Sedangkan mengenai huruf “Ha” (Ha, marbutoh), yang melambangkan realitas lingkaran kosmos sebagai wahyu primordial Tuhan yang merupakan hasil dari pengejawantahan keEsaan pada bidang keanekaragaman. Keempat buah huruf suci ini merefleksikan kandungan prinsip keEsaan ilahi, kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa, kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an: Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”

Keempat huruf ini jika digabungkan menjadi kalimat “Allah”. Itulah alasan mengapa “Alif” menjadi sumber abjad dan huruf pertama dari nama “Tuhan Yang Maha Kekal” ini, Allah, yang bentuk visualnya benar-benar menyampaikan seluruh doktrin metafisik Islam mengenai alam realitas.

Karena dalam bentuk tulisan dari nama “Allah” dalam bahasa Arab, kita melihat dengan jelas suatu garis horizontal, yakni gerak penulisannya, kemudian garis tegak lurus dari “Alif” dan “Lam” semacam garis melingkar, yang secara simbolis dapat disamakan dengan suatu lingkaran “Tauhid” yang mengelilingi jiwa orang Islam, “ dan sekaligus merupakan suatu teofani dan refleksi dari ketakterbatasan kekayaan khazanah Tuhan yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan kemungkinan-kemungkinannya”. Hal ini pula yang menegaskan peran kitab suci Al-Qur’an sebagai petunjuk (Al-Huda), jalan menuju Al-Haq

Kesucian “Bismillah” membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi material sehingga memperoleh jalan masuk ke “Barakah” yang terletak didalam firman illahi dan untuk mengenyam suatu “rasa”, bahwa setiap jiwa akan mengenyam sesuai dengan kapasitas, keterbatasan, dan keabadiannya.***

Huruf “Alif” didalam kalimat “Bismillah” dengan vertikalitasnya melambangkan kekuatan Tuhan dan prinsip transenden yang darinya segala sesuatu itu berasal, sedangkan dua huruf “Lam” dalam bentuk kail (mata kail), yang melambangkan suatu peringatan agar hamba Allah berhati-hati dalam pancingan Iblis atau setan dan sekaligus merupakan pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi, untuk membantu kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam

Bagi mereka yang mengikuti jalan menuju “haqiqah”, kalimat suci ini merupakan pembantu pertama yang sangat diutamakan untuk merenungkan ke-Esaan Ilahi Rabbi, karena huruf “Ba” yang dilambangkan oleh titik pengenal kesucian horizontal “Sin” dengan wujud lengkungan vertikal yang menghadap langit dan “Mim” yang berporos pada suatu tiang kepasrahan.

Tiga huruf-huruf suci ini secara keseluruhan melambangkan eksistensi universal untuk menuntun manusia dalam pembauran kualitas, kekuatan, dan aliran berbagai elemen agar setiap muslim mengingatkan ajaran Tuhan, yaitu dalam bentuk alam semesta, yang benar-benar muslim atau tunduk kepada kehendak Al-haq dengan mematuhi sifat dan hukum alamnya sendiri-sendiri.

Kalimat suci “Bismillah” yang terucap saat berdzikir, berarti sang pendzikir telah kembali kepusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan batin yang menghubungkan dirinya dengan prinsip-prinsip dan irama-irama alam primordial yang sakral dan teramat luas sekaligus merupakan suatu perumpamaan dialog suci antara seorang Hamba dengan Khaliqnya, yang menenangkan dan sekaligus mensucikan jiwanya, begitupun “Bismillah” yang terucap disaat manusia hendak melakukan suatu pekerjaan-pekerjaan yang halal, maka kesadaran dirinya akan terbangkit dari keterlenaan, dalam dirinya melalui kesadaran akan realitas Yang Maha Esa.

“Sebuah kesadaran yang sesungguhnya merupakan substansi dari manusia primordial dan sebab terbentuknya eksistensi manusia “.

Hati serta jiwa seluruh muslim disegarkan oleh “keagungan, keselarasan dan kesucian” kalimat “Bismillah” dalam pada bentuk-bentuk huruf Al-Hijaiyyah yang terdiri dari tujuh huruf (Ba Sin Mim Alif Lam Lam Ha), yang mengelilingi kaum muslim yang hidup didalam masyarakat Islam tradisional dan yang mengungkapkan keindahannya pada setiap lembaran-lembaran suci Al-Qur’an. Oleh karenanya “Bismillah” sebagai induk suci Islam yang merupakan karunia dari “Haqiqah” yang terletak dalam hati wahyu Islam.

Kalimat suci ini akan tetap demikian bagi seluruh muslim, tak peduli apakah diri mereka sadar akan haqiqah ataukah mereka yang sudah puas dengan bentuk-bentuk luarnya saja (kalimat Bismillah yang tersurat).

Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara “shalat” yang secara naluriah mengembalikan manusia pada keadaan haqiqat kesadaranNYAdengan menjadikan seluruh alam sebagai tempat ibadah. Begitu pula halnya kalimat “Bismillah” yang terucap saat bersujud menyentuh bumi (shalat), adalah ; untuk mengembalikan manusia ke-kesucian pada kemurnian (al-fithrah) saat Yang Maha Esa menghadirkan DIRINYA secara langsung didalam diri manusia dan menjadi mutajalliyahNYA Al-haq “mengumandangkan sebuah simfoni abadi dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci”.سبح يسبح علي نفسه mensucikan DIRI-NYA sendiri dengan kesucianNYA bukan untuk mahluk ..

Bismillah diilhami oleh spiritualitas Islam secara langsung yang diwahyukan oleh Allah Swt kepada Nabi, sedangkan wujudnya tentu saja dibentuk oleh karakteristik-karakteristik tertentu dari tempat penerima wahyu Al-Qur’an, yaitu :
“Qalbu” (hati), yang nilai-nilai positifnya diuniversalkan Islam.

Bentuk wahyu Islam yang pertama ini (Bismillah) tidaklah mengurangi kebenaran, bahwa sumber religius dari “Bismillah” ini berasal dari kandungan batin dan dimensi spiritual Islam pula.

Hanya bagi orang yang yang trpanggil oleh-NYA yg mampu melihat relitas-realitas tersebut ataupun orang yang telah dipilih untuk memperoleh penglihatan “Al’Bashirah” (penglihatan batin) dan di jauhkan dari sifat basyariyah (kemanusiaan) atas sesuatu yang tersembunyi dibalik rahasia “Bismillah”

Dikarenakan “Bismillah” ini merupakan pula pesan dari ruang inti perbendaharaan yang gaib (khaza’in al-ghoybi), maka siapapun yang menerima pesan kalimat suci ini didalam hatinya ia seakan menikmati alunan nyanyian alam rahim yang membawa jiwanya sebelum episode perjalanan duniawinya yang singkat.

Agama Islam tidak berdasarkan ketegangan dramatis antara langit dan bumi, atau pengorbanan diri dan penyelamatan melalui penyerahan diri kepada Al-haq semata , akan tetapi Agama Islam bertindak untuk mengembalikan kesadaran manusia, bahwa alam semesta adalah kalam ilahi (al-qur’an qodim) dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis (al-furqon) yang diwahyukan dalam bahasa Arab.

Bismillah membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi material, sehingga memperoleh jalan masuk ke barakah yang terletak didalam firman ilahi dan untuk mengenyam hakikat alam spiritual, karena Bismillah itupun adalah suatu pengejawantahan dari kristalisasi realitas-realitas spiritual (Al-Haqa’iq) yang terkandung didalam wahyu Islam pertama :

“Iqraa bismirabbikaal ladzii khalaq”:
Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan
(Q.S. : 96 : 1)

Kalimat “Bismillah” merupakan hasil dari pengejawantahan ke-Esaan pada bidang keanekaragaman.

Kalimat suci ini merefleksikan kandungan prinsip keEsaan ilahi, kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa, kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an:
“Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Q.S. 3 : 191)

 Allah Swt menurunkan kalimat suci “Bismillah” dalam wujud fisik (yang tersurat) pada sebuah kitab suci Al-Qur’anul Kariim yang secara langsung dapat dipahami oleh pikiran yang yang telah tidak bersandar pada selain alloh .

Karena kalimat suci “Bismillah” itu sendiri, memiliki realitas-realitas dasar dan perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari tingkat yang dapat dilihat dan di dengar menuju ke Yang Maha RUH (sirru al-rbubiyah) , yang juga merupakan keheningan diatas setiap bunyi.

Wujud fisik (Bismillah) inipun didasarkan pada ilmu pengetahuan tentang dunia batin yang tidak hanya berkaitan dengan penampakan lahir semata, tetapi juga dengan realitas-realitas batin “Bismillah” itu sendiri (yang tersirat)

Karena adanya suatu kehadiran ilahi dalam teks Al-Qur’an , yakni Bismillah (Basmallah), maka kalimat Bismillah inipun merupakan pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi itu, untuk membantu kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam.

Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajalli asma,Af’aal,sifat, dan tajalli dzat  Allah dengan sirnanya tirai dunia & akhirat , maka ia akan tawakkal.

Sedangkan siapa yang meraih TajalliNYA dengan sirnanya diri kehamba’an (asma,af’al,sifat &dzat) maka  terbukalah  ia akan Ridha dan Pasrah.

Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim”.

Tauhidnya af’aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, “Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu”.

Penjelmaan duniawi dari pola dasar ilahi, yang disebut didalam Al-Qur’an dengan penulisan pena dan tempat tinta, memiliki suatu pokok spiritual.

Dapat dikatakan, bahwa Al-Qur’an merupakan suara dari firman Tuhan yang diembuskan ke hati Nabi dan kemudian kepada para sahabat dan generasi-generasi selanjutnya.

Sayyidina Ali Karamallahu Wadz’hahu mengatakan : “ Bahwa seluruh Al-Qur’an itu terkandung didalam surat Al-Fatihah”, sedangkan surat Al-Fatihah itu sendiri terkandung di dalam Bismillah (basmallah).

Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan petunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af ‘aal. Yaitu tiga Alam ketika dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.

Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa’, “dari mana hilangnya Alif itu?” Maka Rasulullah saw, menjawab, “Dicuri oleh Syetan”.

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa’nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar.

Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan, “Manusia diciptakan menurut gambaran Nya”

Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh Af’aal. Af’aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.

Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah.

Karena Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah.

Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya,

“Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa”. (Al-hadits).

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf.

Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf.

Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

Delapan belas (18) huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah.

Alif merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan.

Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.

Kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya.

Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi – alaihimus salam – meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud.

Kenyataan ini bisa ditemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

Doa Bismillaah Kubro


Termaktub dalam sebuah Hadits

وَ اَخْــرَجَ الـدَّ يــْـلَـمِى عَنِ ا بْــنِ مَـسْـعُـوْدِ رَضِيَ الـلّــــهُ عَــنْــهُ قَـالَ رَسُـوْ لَ الـلّـــــهِ صَــلَّى الـلّــــــهُ عَــلَــيْــهِ وَ سَــلَّـمَ : مَنْ قَــرَاءَ لبِـسْـــــــمِ الـلّـــــــهِ الـرَّحْـمـنِ الـرَّ حِــيْـــــــمِ. كَــتَـبَ لَـــــهُ بِكُــلِّ حَـرْفٍ اَ رْ بـَــعَــةُ اَلاَ فٍ حَسَـنَـةٍ وَ مْحَى عَــنْـهُ اَرْ بَــعَـةَ اَ لاَ فِ سَــيِّــــئَــةٍ وَ رَ فَـــعَ لَــهُ اَرْ بـَــعَــةُ اَ لاَ فِ دَ رَجَــــــةٍ

“Diriwayatkan oleh Ad-Dailamy. Dari Ibnu Mas’ud Ra. bahwa bersabda Rasulullah Saw : “Barang siapa membaca Bismillahir-Rohmaanir-Rohiim, maka dituliskan baginya tiap-tiap huruf 4000 kebajikan dan dihapuskan darinya 4000 keburukan. Dan diangkatkan untuknya 4000 Derajat”. (Ad-Dailamy)

Basmalah, merupakan bacaan (dzikir) yang kerap kali kita lantunkan. Basmalah adalah istilah dari penyebutan Bismillah, seperti hamdalah istilah dari Al Hamdulillah dan hauqalah istilah dari lahaula wala quwwata illa billah. Ia merupakan penggalan salah satu ayat dalam surat An Naml dan sebagai ayat pertama yang membuka surat Al Fatihah. Lebih dari itu, basmalah sebagai pembuka dari seluruh surat-surat Al Qur'an kecuali surat At Taubah (Al Bara'ah), namun bukan bagian dari surat-surat tersebut kecuali pada surat Al Fatihah.

Membacanya pun akan mendapat balasan (pahala) sebagaimana pahala membaca ayat-ayat yang lain dalam Al Qur'an.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ، وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ، فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

“Jika seseorang masuk rumahnya dan dia mengingat nama Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan akan berteriak: ‘Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam.’ Namun jika dia tidak mengingat Allah ketika masuk maka setan mengatakan, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’ dan jika dia tidak mengingat nama Allah ketika makan maka setan mengundang temannya, ‘Kalian mendapat jatah menginap dan makan malam’.” (HR. Muslim).

Doa Basmalah Kubro

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ  بِفَضْلِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ,وَأَسْأَلُكَ بِعَظَمَة بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وأَسْأَلُكَ بِجَلاَلِ وَثَنَاءِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَأَسْأَلُكَ بِهَيْبَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَبِحُرْمَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَبِجَبَرُوتِ وَمَلَكُوتِ وَكِبْرِيَاءِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, وَبِعَِةِ وَقُوَّةِ وَقُدْرَةِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, إرْفَعْ قَدْرِى بِسِرِّ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.  اللَّهُمَّ  يَسِّرْ أَمْرِى وَاجْبُرْ كَسْرِى وَأَغْنِ فَقْرِى أَسْأَلُكَ وَأطِلْ عُمْرِى مَعَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ  بفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ وَإحْسَانِكَ يَا مَنْ هُوَ كهيعص . حمعسق. الم  . المر المص : بِسِرِ اسْمِ الله الأَ عْظَمِ.  الله الّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ذُو الجَــلاَلِ وَ الإِكْرَامِ, أَسْأَلُكَ بِجَلاَلِ الهَيْبَةِ وَبِعِزَّةِ العِزَّةِ, وَ أَسْأَلُكَ بِكِبْرِيَاءِ العَظَمَةِ وَبِجَبَرُوتِ القُدْرَةِ أَنْ تَجْعَلَنِى مِنَ الذِيْنَ لاَ خَوفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ, وَ أَسْأَلُكَ بِحُسْنِ الْبَهَاءِ وَبِإِشْرَاقِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ أَنْ تُدْخِلَنِى بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ, اللَّهُمَّ  أَسْأَلُكَ بِسِرِّ هَذَا كُلِّهِ أَنْ تَقْضِيَ لِى جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ, وَاَنْ تُطَهِّرَنِى  مِنْ جَمِيْعِ السَّـيِّـئَاتِ, وَأَنْ تُنْجِيْنِى مِنْ جَمِيْعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ وَتَرْفَعَنِى  عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَات وَأَنْ تُبَلِّغَنِى  أَقْصَى الغَايَات مِنْ جَمِيْعِ الخَيْرَاتِ فِي الحَيَاةِ وَبَعْدَ المَمَات, وَ أَسْأَلُكَ يَا اللهُ أَنْ تُفَرِّجَ عَنِّى مَا أَنَا فِيْهِ وَأَنْ تُقَدِّرَلِى اْلخَيْرَ فِيْمَا اُرِيْدُهُ وَأَنْوِيْهِ, وَاَنْ تَعْصِمَنِى مِنَ الْفِتَنِ وَاْلمَعَاصِى وَاْلفَحْشَاءِ, وَأَنْ تَحْفَظَنِى وَأَهْلِى وَذُرِّيَّتِى وَمَنْ تَحْتَ حَوْزَتِى مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَشَرٍّ وَبَلاَءٍ, وَاَنْ تَنْصُرَنِى عَلَى جَمِيْعِ اْلحُسَّادِ وَاْلمَاكِرِيْنَ وَاْلأَعْدَاءِ يَا رَبَّ العَالَمِيْن.

Alloohumma innii as-aluka bifadhli bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bi’azhamati bis-millaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bijalaali wa tsanaa-i  bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bihaibati bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa as-aluka bihurmati bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wajabaruuti wa malakuuti wa kibriyaa-i bismillaahir-rahmaanir-rahiim, wa bi’izzati wa quwwati wa qudrati bismillaahir-rahmaanir-ra-hiim. Irfa’ qadrii bisirri bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Alloohumma yassir amrii wajbur kasrii wa aghni faqrii wa athil ‘umrii ma’as-shihhati wal ‘aafiyati bifadhlika wa karamika wa ihsaanika. Yaa man huwa kaaf haa yaa ‘aiin shaad, haa miim ‘aiin siin qaaf, alif laam miim, alif laam miim raa, alif laam miim shaad, bisirris-millaahil a’zham.

Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuuml ‘aliyyul ‘azhiimu dzul jalaali wal ikraam. As-aluka bijalaalil haibati wa bi’izzatil ‘izzati, wa as-aluka bikibriyaa-il ‘azhamati wa bijabaruutil qudrati, an taj’alanii minalladziina laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. Wa as-aluka bihusnil ba-haa-i wa bi-isyraaqi wajhikal kariimi, an tudkhi-lanii birahmatika fii jannaatin-na’iim, yaa rabbal ‘aalamiin. Alloohumma as-aluka bisirri haadzaa kullihii an taqdhiya lii jamii’il haajaat, wa an tuthahhiranii min jamii’is-sayyi-aat, wa an tun-jiinii min jamii’il ahwaali wal aafaat, wa an tarfa-’anii ‘indaka a’lad-darajaat, wa an tuballighanii aqshal ghaayaati min jamii’il khairaati fil hayaati wa ba’dal mamaat. Wa as-aluka yaa Allooh, an tufarrija ‘annii maa ana fiihi, wa an tuqaddira liyal khaira fiimaa uriiduhuu wa anwiihi, wa an ta’shimanii minal fitani wal ma’aashii wal fakh-syaa-i, wa an tahfazhanii wa ahlii wa dzurriyyatii wa man tahta hauzatii min kulli suu-in wa syar-rin wa balaa-in. Wa an tanshuranii ‘alaa jamii’il hussaadi wal maakiriina wal-a’daa-i, yaa rabbal ‘aalamiin.

 “Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan (perantaraan) keutamaan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim; aku memohon kepada-Mu dengan (peranta-raan keagungan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim; aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan keagu-ngan dan keterpujian Bismillaahir-rahmaa-nir-ra-hiim; aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan kemuliaan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim; dengan (perantaraan) kehormatan Bismil-laahir-rahmaanir-rahiim; dengan perantaraan keperkasaan, kemuliaan dan kebesaran Bismillaa-hir-rahmaanir-rahiim; serta dengan perantaraan kekuatan dan kekuasaan Bismil-laahir-rahmaanir-rahiim; serta angkatlah derajatku dengan perantaraan rahasia  Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Ya Allah! Permudahlah urusanku, tam-ballah kekuranganku,  cukupilah kebutuhanku dan panjang-kanlah umurku disertai kesehatan dan kese-jahteraan, berkat karunia, kemuliaan dan kebaikan-Mu, Wahai Tuhan Yang Dia-lah Kaff Haa Yaa ‘Aiin Shaad, Haa Miim ‘Aiin Siin Qaaf, Alif Laam Miim, Alif Laam Miim Raa, Alif Laam Miim Shaad; berkat rahasia Asma’ Allah Yang teragung.

Allah, tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan; aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan keagungan kehebatan /  kehor-matan-Mu dan kemuliaan kemuliaan-Mu. Aku memohon kepada-Mu berkat keagungan Keagungan-Mu dan keperkasaan Kekuasaan-Mu; kiranya Engkau menja-dikan aku termasuk orang-orang yang tidak ada kekhawatiran buat mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Aku memohon kepada-Mu berkat bagus-nya keindahan (Mu) dan berkat bersinarnya Wajah-Mu yang Mulia, kiranya Engkau memasukkan aku dengan rahmat-Mu kedalam surga na’im-Mu, wahai Tuhan sekalian alam. Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu berkat rahasia ini semua, kiranya Engkau mengabulkan seluruh hajat keperluanku; kiranya Engkau hapuskan bagiku dari semua keburukan/dosa; kiranya Engkau selamatkan aku dari semua kegentingan dan bencana kiranya Engkau angkat aku pada derajat yang tertinggi di sisi-Mu; kiranya Engkau sampaikan aku pada batas terakhir cita-citaku dari seluruh kebaikan, baik sewaktu hidup (di dunia) maupun setelah wafat. Aku memohon kepada-Mu, Ya Allah, kiranya Engkau melapangkan dariku apa-apa (kesusahan) yang aku ada didalamnya; kiranya Engkau takdirkan kebaikan untukku pada (persoalan) apa saja yang aku kehendaki dan aku ingini; kiranya Engkau pelihara aku dari fitnah, kemaksiatan dan perbuatan keji; kiranya Engkau menjaga aku, keluargaku, anak ketu-runanku dan orang-orang yang di bawah perlin-dunganku dari semua keburukan, kejahatan dan ben-cana; dan kiranya Engkau menolongku mengatasi semua orang yang hasud, penipu dan musuh. Wahai Tuhan sekalian alam.

Doa Bagi Orang Yang Susah Tidur


Gangguan tidur di malam hari atau insomnia menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat modern. Mereka yang mengalaminya pun sering kali merasa sangat tersiksa lantaran kurangnya jam tidur yang mereka dapatkan setiap malamnya. Akibatnya, penderita insomnia cenderung merasa lelah, kurang energi dan konsentrasi. Parahnya, insomnia bahkan dapat menyebabkan seseorang terserang depresi dan stress.

Ada begitu banyak solusi yang ditawarkan medis untuk mencegah masalah tidur yang satu ini, mulai dari mengkonsumsi obat sampai mengikuti bermacam-macam terapi. Namun kebanyakan dari solusi penyembuhan itu justru menimbulkan efek yang jauh lebih buruk.

Sudah tidak dapat di pungkiri  tidur merupakan  kebutuhan yang sangat penting bagi tubuh maupun pikiran kita, karena tubuh dan pikiran juga memerlukan istirahat agar tubuh dan pikiran kita segar kembali untuk menjalani aktifitas sehari-hari.

Jika kita susah untuk tidur atau insomnia badan kita akan terasa lemas pikiranpun menjadi tidak karuan. tidak hanya itu kesehatan juga menurun, aktifitas sehari-hari jadi terganggu karena mengantuk pada siang harinya, kesehatan juga pasti akan menurun yang menyebabkan kita mudah terkena penyakit.

Sahabat Nabi yakni Zaid bin Tsabit ketika mengalami susah tidur (insomnia). Pengakuan Zaid ini ditulis dalam Kitab Ibnu Sunni yang dikutip oleh Imam Nawawi dengan kalimat “Lalu saya membacanya, kemudian Allah menghilangkan apa yang saya alami ”. Berikut adalah lafadz bacaan doa ketika sulit tidur lengkap arab, latin dan artinya.

اَللهُمَّ غَارَتِ النُّجُوْمُ وَهَدَاتِ الْعُيُوْنُ وَأَنْتَ حَيٌّ قَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُكَ سِنَةٌ وَلاَنُوْمٌ، يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ أَهْدِىءْ لَيْلِى وَأَنِمْ عَيْنِيْ

ALLAHUMMA GHARATIN NUJUM WA HADAATIL ‘UYUN, WA ANTA HAYYUN QAYYUM, LA TAKKHUZUKA SINATUN WALA NAUMUN. YA HAYYU YA QAYYUM, AHDI’ LAILI WA ANIM ‘AINI

Ya Allah, bintang-bintang telah redup, mata-mata telah memejam dan Engkau Maha Hidup lagi Maha Terus-menerus mengurus makhluk. Tidak menimpa-Mu rasa kantuk dan tidur. Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi makhluk, tenangkanlah malamku dan tidurkanlah mataku.

Itulah Lafadz Doa Ketika Susah Tidur (Doa Insomnia) Lengkap bahasa arab, tulisan latin dan artinya, sebagaimana Hadits Riwayat Ibnu Sunni. Adapun untuk hadits selengkapnya adalah sebagai berikut.
روينا فى كتاب ابن السني عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال: شكوت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم أرقا أصانبي، فقال: قل: اَللهُمَّ غَارَتِ النُّجُوْمُ وَهَدَاتِ الْعُيُوْنُ وَأَنْتَ حَيٌّ قَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُكَ سِنَةٌ وَلاَنُوْمٌ، يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ أَهْدِىءْ لَيْلِى وَأَنِمْ عَيْنِيْ، فقلتها، فأذهب الله عزّوجلّ عني ماكنت أجد

Sahabat Nabi lainnya yang mengalami insomnia atau susah tidur yaitu Khalid bin Walid. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya bin Haban, Khalid yang mengadukan keadaan yang dialaminya, Rasulullah menganjurkan membacakan :

اعوذ بكلماتالله التامات من غضبه ومن شرعباده ومن همزات الشياطين وان يحضرون

A'UUDZU BIKALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN GHODLOBIHI WA MIN SYARRI 'IBAADIHI WA MIN HAMAZAATISY SYAYAATIINA WA AYYAHDLURUUN

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan-Nya, dan dari keburukan hamba-hamba-Nya, serta dari berbagai godaan syetan dan kehadirannya

Dikisahkan seperti halnya kisah Khalid sebelumnya. Namun dengan resep doa yang berbeda.

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَمَا أَظَلَّتْ وَرَبَّ الأَرَضِينَ وَمَا أَقَلَّتْ وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضَلَّتْ كُنْ لِي جَارًا مِنْ شَرِّ جَمِيعِ الْجِنِّ وَالإِنْسِ ، وأَنْ يُفْرَطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَوْ أَنْ يُؤْذِيَنِي عَزَّ جَارُكَ وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ وَلا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah Tuhan langit dan apa yang dinaungi, Tuhan Bumi dan apa yang diangkat, Tuhannya para setan  dan apapun yang disesatkan, Jadilah Engkau (wahai Tuhanku) yang berada di sisiku (melindungiku) dari seluruh kejahatan jin dan manusia, dari tindakan berlebih-lebihan mereka atau dari gangguan salah satu dari mereka. perlindungan-Mu sangatlah agung demikian pula juga pujian kepada-Mu, dan tiada Tuhan selain-Mu.”

Riwayat yang bersumber dari sahabat Khalid ini dapat juga ditemukan di dalam kitab-kitab hadis lainnya seperti, Musnad al-Bazzar karya Abu Bakar al-Bazzar, al-Mu’jam al-Kabir karya al-Thabrani, dan dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah karya Abu Bakar Ibn Abi Syaibah.